Minggu, 06 Juli 2025

Ngomongin Komunikasi

 Cari Tahu Keterkaitan antara Teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri

Sahabat komunikasi, pernah nggak sih ngerasain fase dimana lagi ngebuka diri buat kenalan sama orang baru, tapi kalian tuh tetep bisa ngatur batasan agar pendekatannya seimbang dan gak berujung ke oversharing. Nah ternyata, jika dikaji lewat kacamata komunikasi, fenomena ini tuh merupakan penerapan dari teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri lohhh. So, gimana sih keterkaitan antara 2 teori tersebut? cuzzz kepoin penjelasan di bawah ini yaaaa!!!!!


Asal Usul Teori: Gimana sih Mereka bisa Lahir?

  1. Teori Penetrasi Sosial (Altman & Taylor). Teori ini lahir buat ngamatin, gimana sih hubungan antar individu manusia bisa terbentuk. Teori ini, diibaratkan kayak bawang. Di mana, lapisan-lapisan bawang melambangkan tingkat keintiman yang berbeda. Awalnya, kita cuma berbagi informasi yang ringan-ringan saja (lapisan luar), kemudian seiring waktu kita mulai mengungkapkan informasi yang lebih pribadi dan mendalam (lapisan luar).
  2. Teori Regulasi Diri (Bandura). Teori ini muncul buat nyari tahu gimana sih kemampuan individu untuk ngendaliin perilaku mereka sendiri lewat proses yang bertahap, mulai dari pengamatan diri, penilaian, dan reaksi diri. 

Gimana Mereka bisa saling Berhubungan?
Jika diterapin dalam kehidupan sehari-hari, kedua teori ini tuh ibarat sahabat sejati yang gak bisa berdiri sendiri dan saling nyambung satu sama lain. Seperti pada kasus yang aku bahas di awal tadi, buat kenalan sama orang baru, tentunya kita gak langsung nyeritain semua informasi dari diri kita. Perlu waktu yang bertahap dari yang awalnya ngomongin hal-hal yang ringan dan dangkal (nama, alamat, hobi, kesukaan), hingga akhirnya mulai ngungkapin hal yang lebih intim dan mendalam (pandangan hidup, masalah, keluarga, dll). 

Nah, buat nentuin sejauh mana batasan informasi yang perlu diungkapkan, disinilah Teori Regulasi Diri ambil peran. Lewat teori inilah kita bisa ngontrol sikap dan perilaku kita, tentang "apa aja sih informasi yang seharusnya aku bagi?" atau "udah waktunya atau belum ya buat nyeritain ini?". Dengan regulasi diri, kita juga mantau apakah yang kita lakuin udah bener? dan gimana kita bereaksi dengan respon lawan bicara kita. 


Kesimpulan 
Jadi, dengan Teori Penetrasi Sosial kita jadi paham tentang gimana sih tahapan dan proses kedekatan hubungan antar manusia, kemudian dengan Teori Regulasi Diri kita bisa ngontrol perilaku dan batasan yang kita inginkan. So, kedua teori ini tuh hadir buat saling ngelengkapin satu sama lain, dan mastiin komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. 

Kamis, 19 Juni 2025

Review Teori Komunikasi

 1) Teori Regulasi Diri (Self Regulation)

Teori Regulasi Diri yaitu, kemampuan untuk mengontrol diri dan menetapkan reaksi terhadap keberhasilan dan kegagalan yang dicapai. 

Jadi, teori regulasi diri ini tuh kayak bagaimana kita berkomunikasi dengan diri kita, mengontrol setiap tingkah laku, tindakan, emosi, dan reaksi kita, untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Proses Regulasi Diri 

Prosesnya sendiri terdiri atas 6 tahapan:

  1. Receiving (penerimaan) 
  2. Evaluating (pengolahan informasi) 
  3. Searching (pencarian solusi) 
  4. Formulating (tujuan) 
  5. Implementing (pelaksanaan) 
  6. Assesing (pengukuran)
Studi Kasus

Misal kita punya keinginan buat dapat ipk yang tinggi di semester 2, maka kita bisa terapin teori ini mulai dari tahap awal sampai akhir:

  1. Receiving, menerima dan membangun kesadaran kalau kita harus melakukan perubahan. 
  2. Evaluating, kita perlu mencari informasi nih tentang apa aja sih cara² buat dapetin ipk yang tinggi, macam² strategi belajar, cara agar fokus, tidak terdistraksi saat belajar, dll.
  3. Searching, mulai mencari solusi dengan merancang strategi, misal tetapkan strategi belajar yang dirasa cocok dengan diri kita, atur jadwal dan periode waktu belajar, list skala kepentingan tugas, biasakan mencatat ketika kelas, aktif saat pembelajaran, dan list lagi apa saja yang kiranya bisa mengganggu belajar supaya kita bisa menghindari hal tersebut.
  4. Formulating, tentukan tujuan yang jelas dari langkah-langkah yang sudah kita buat, misal di semester 2 kita ingin dapat ipk 4.00 dan menjadi mahasiswa aktif. 
  5. Implementing, mulai implementasikan apa yang sudah dirancang, pantau perkembangan, dan jangan lupa hindari yang memicu distraksi.
  6. Assesing, lakukan pengukuran tentang seberapa berhasilkah strategi yang sudah dilakukan, apakah sudah mencapai target yang ditetapkan. 

2) Teori Penetrasi Sosial (Sosial Penetration)

Teori Penetrasi Sosial, merupakan teori yang menjelaskan tentang perkembangan hubungan interpersonal yang berjalan secara bertahap, mulai dari lapisan terluar hingga lapisan terdalam selayaknya kita mengupas bawang. 

Proses Penetrasi Sosial

Prosesnya sendiri terdiri atas 5 tahapan:
  1. Orientasi (interaksi awal, biasanya masih canggung, sopan, dan membahas hal² ringan) 
  2. Eksplorasi Afektif (mulai membahas tentang perspektif pribadi, nilai² umum, dll) 
  3. Afektif (mulai timbul kedekatan secara emosional, mulai membahas hal² pribadi) 
  4. Pertukaran Stabil (mulai saling mengungkapkan diri lebih dalam) 
  5. Depenetrasi/opsional (fase dimana terjafi kerenggangan hubungan dan penarikan kembali informasi yang telah dibagikan
Studi Kasus

Misal ketika kita pertama kali masuk dunia perkuliahan dan mendapatkan teman baru, maka kita akan melalui beberapa tahapan pengenalan:
  1. Orientasi, di tahap ini kita masih membicarakan hal² yang umum seperti nama, alamat, kesukaan, hoby, dll, (cenderung masih canggung dan jaga sikap) 
  2. Eksplorasi Afektif, mulai membahas topik yang agak berat tentang pendapat / pandangan pribadi terhadap suatu fenomena, politik, ekonomi, sejarah, dll. 
  3. Akfektif, mulai timbul kedekatan emosional, saling bertukar informasi pribadi
  4. Pertukaran Stabil, terjadi pertukaran informasi yang lebih dalam. Biasanya ditandai dengan saling curhat. 
  5. Depenetrasi, ketika terjadi kerenggangan hubungan antara kedua belah pihak, dan saling memutus informasi satu sama lain. 

3) Teori Lingkaran Keheningan (Spiral of Silence) 

Teori Spiral of Silence merupakan teori yang membahas tentang suatu fenomena dimana individu merasa takut dan tidak percaya diri, untuk mengungkapkan pendapatnya karena dirinya merasa berada di pihak minoritas. Dalam konteks yang lebih luas lagi, terkadang media juga turut berpengaruh dalam menyuburkan fenomena ini. 

Studi kasus

Misal dalam sebuah diskusi kelompok yang mana mayoritas anggotanya berasal dari suku Jawa. Ada dua pihak yang berasal dari dua suku yang berbeda yaitu Jawa dan Aceh, yang mana masing-masing dari mereka mempunyai gagasan dan ingin menyampaikan pendapatnya. Ketika pihak Jawa menyampaikan pendapatnya, sontak mayoritas anggota langsung setuju dengannnya. Melihat hal itu, pihak Aceh yang merasa minoritas dalam kelompok, menjadi minder dan tidak prcaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya, karena merasa takut ditolak atau dikucilkan oleh rekan-rekannya. 



Minggu, 25 Mei 2025

Philosopy Class - day 10

Trilogi Ilmu: Proses, Prosedur, dan Produk

—21 Mei 2025


Tenth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada pertemuan ke sepuluh ini, kita diajak untuk mengenal lebih dalam dan mengupas secara rinci tentang "ilmu", dan konotasinya, dalam konteks filafat ilmu. 


Trilogi Ilmu: 3P (Proses, Prosedur, Produk)

Sabtu, 17 Mei 2025

Philosopy Class - day 9

Meneropong Mimpi Lewat Lensa Psikologi Islami

—14 Mei 2025


Ninth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada pertemuan ke sembilan ini, tidak ada kelas offline, dan kita diinstruksikan untuk melanjutkan membaca jurnal sebelumnya yang terkait dengan mimpi. Kali ini kita akan membahas lebih mendalam lagi tentang mimpi berdasarkan pandangan psikologi islam.

Pengertian Mimpi

Senin, 12 Mei 2025

Philosopy Class - day 8

 Mimpi: Bunga Tidur atau Bunga Kantil?

—7 Mei 2025



Eighth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada perjumpaan kali ini, kita diajak untuk mebahas tentang "Mimpi", dalam perspektif psikologi, dan hubungannya dengan salah satu cabang filsafat yaitu "Ontologi".


Mimpi dan Ontologi

Jumat, 25 April 2025

Philosopy Class - day 7

Menggali Epistemologi Dalam Filsafat Ilmu

—23 April 2025


Seventh class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada dua  pertemuan sebelumnya, kita sudah membahas tentang 2 dari 3 cabang filsafat yaitu "Ontologi", dan "Aksiologi", selanjutnya pada pertemuan ketujuh ini kita membahas tentang cabang filsafat yang terakhir yaitu, "Epistemologi".


Epistemologi

Kamis, 17 April 2025

Philosopy Class - day 6

 Mengulik Aksiologi Dalam Filsafat Ilmu

—16 April 2025


Sixth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Jika pada pertemuan sebelumnya, kita membahas tentang salah satu cabang filsafat yaitu "Ontologi", maka pada pertemuan keenam ini kita membahas tentang cabang filsafat yang lain yaitu, "Aksiologi". 


Aksiologi

Rabu, 16 April 2025

Philosophy Class - day 5

 Mengupas Ontologi Dalam Filsafat Ilmu

—9 April 2025


Fifth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Ini adalah kelas offline pertama setelah libur lebaran. Pada pertemuan kelima ini, kita belajar mengenai 3 cabang filsafat dalam filsafat ilmu, yaitu Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Di pertemuan ini, kita akan mengulik tentang "Ontologi" terlebih dahulu.

Ontologi

Jumat, 04 April 2025

Philosophy Class - day 4

 Agama dan Sains: Dua Sisi Mata Uang Peradaban

Nama: Ahmad Wisnu Febriansyah                          Kelas : KPI-2E                                                              Nim   : 1860304241013

—26 Maret 2025

Sebenarnya definisi orang berilmu itu seperti apa sih? Apakah mereka yang jago berhitung? Serba tahu? Jenius? Atau menguasai segala hal? Sejatinya, ilmu merupakan ciri manusia itu sendiri. Bahkan penilaian paling adil terhadap manusia, dapat dilihat berdasarkan ilmu yang mereka miliki. Namun dimasa sekarang ini nampaknya, ilmu-ilmu yang didasarkan pada data dan fakta, dapat diamati, diukur serta dibuktikan, dianggap memiliki derajat yang paling unggul diantara cabang-cabang ilmu lain. Lebih parahnya lagi, kebenaran ilmu agama mereka anggap absurd belaka. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, ilmuan-ilmuan modern seakan-akan meremehkan peranan Tuhan. 

Fenomena ini tak lepas dari pengaruh perkembangan pemikiran positivisme Auguste Comte, yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan memiliki tiga tahap pembebasan. Terbebas dari hal-hal teologik yang bersifat mistis, terlepas dari wilayah metafisik yang bersifat abstrak, dan hak otonomi ilmu pengetahuan dalam lingkungan positivistik. Apa yang dianggap benar adalah apa yang terukur dan tampak pada indra manusia, sehingga tak ada ruang bagi kebenaran spekulatif abstraktif. Secara tak sadar, dari mindset ini timbullah suatu hierarki atau pengkastaan dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pasti menduduki posisi tertinggi, disusul ilmu-ilmu kealaman, kemudian ilmu sosial (itupun yang bersifat positivistik dan materialistik). Selanjutnya adalah ilmu humaniora, dan ilmu agama menempati urutan terbawah. Akibatnya, pintar atau tidaknya manusia sering dinilai berdasarkan penguasaan mereka atas hierarki tersebut. Hal ini sangat tidak manusiawi, karena sejatinya pintar ataupun bodoh tidak dapat diukur dengan standar yang sama,  setiap manusia punya kelebihan dan potensi yang berbeda-beda.

Di zaman ini, manusia sudah tidak bergantung lagi pada siklus alamiah yang diatur oleh irama alam. Manusia cenderung diatur oleh "alam kedua", yang bersifat buatan sebagai hasil dari perkembangan teknologi. Teknologi sudah bukan lagi sekedar tiruan " Alam pertama", namun sudah sampai pada tahap menggantikan fungsi dan peran manusia itu sendiri. Ketidakberhasilan ilmu humanistik dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan seperti kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan, semakin mengglorifikasi hierarki ilmu pengetahuan.  

Harus diakui bahwa dewasa ini ini, manusia tak bisa melepaskan diri dari teknologi. Bahkan dalam beberapa kasus, teknologi seolah-olah sudah mengganti/meniru peranan yang dimasa lalu dianggap kehendak Tuhan dalam hal penciptaan. Ilmu pengetahuan (eksakta) dan teknologi, seakan-akan berlakon sebagai "sang penebus dan sang pembebas". Ia menebus dan membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan dan kelatarbelakangan. Namun, persoalan penting yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa dewasa ini perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tampaknya tidak diimbangi dengan moral kemanusiaan. 

Ilmu pengetahuan dan teknologi, awalnya memang dikembangkan untuk membebaskan manusia, dan mempermudah mereka dalam menghadapi dan menyelasaikan berbagai persoalan dalam kehidupan. Namun fakta dilapangan mengatakan, kemajuan teknologi ibarat pisau bermata dua. Ia bisa memberikan dampak yang positif bagi manusia, tetapi juga dapat menghadirkan malapetaka apabila tidak ada kontrol atas penggunaannya. Manusia seakan kehilangan interaksi batinnya dengan manusia lain, dengan alam lingkungan, maupun dengan entitas yang transenden. 

Melihat fenomena ini, maka diperlukan suatu usaha besar dalam rangka menyejajarkan kedudukan antara ilmu pengetahuan (eksakta-empirik) dan teknologi, dengan filsafat ilmu pengetahuan. Penegasan kedudukan ini, bukan semata-mata untuk formalitas saja. Filsafat ilmu pengetahuan di sini, bertugas membimbing manusia untuk meraih kebenaran yang sejati. Agar manusia menyadari bahwa selama ini, mereka telah terbutakan oleh yang selama ini mereka anggap sebagai kenikmatan duniawi buah hasil dari kemajuan pengetahuan dan teknologi. 

Kiranya, dialog lintas cabang ilmu pengetahuan amatlah penting di masa sekarang ini. Agar masing-masing ilmu pengetahuan tidak saling menutup diri, dan menyadari bahwa semua ilmu pengetahuan adalah sejajar kedudukannya. Tidak ada lagi diskriminasi terhadap ilmu agama, agama merupakan alternatif untuk menjawab persoalan-persoalan yang berada diluar batas rasio akal. Karena sejatinya, kehidupan manusia tak bisa luput dari teka-teki transedental. Manusia yang berilmu seharusnya tidak hanya dinilai dari seberapa pandai dia dalam mengendalikan alam, tetapi juga bagaimana dia mengendalikan insannya. 

Kesimpulan—                                                            Kemajuan suatu teknologi tidak hanya dilihat dari sampai mana itu berkembang, tetapi juga bagaimana manusia punya kendali atas hal tersebut. Sebagai orang yang berilmu, sepatutnya harus bersikap rendah hati dan tidak besar diri. Karena sejatinya, seberapa tinggi derajat manusia tidak hanya diukur dari seberapa hebat penguasaan ilmunya, tetapi juga pada seberapa lihai dia dalam mengontrol atas dirinya. Ilmu agama adalah kunci untuk menjawab pernak-pernik kehidupan yang bersifat transedental, yang berada di luar rasio akal. Hierarki dalam ilmu pengetahuan, hanya akan menunjukkan seberapa tidak berilmunya manusia. 

Hikmah—                                                                    Hikmah yang dapat kita peroleh dari pembahasan diatas adalah: pertama, hindarilah sifat sombong dan besar diri. Tidak ada ilmu pengetahuan yang paling unggul, semua manusia punya keunikan dan potensi yang berbeda-beda. Kedua, kemajuan suatu teknologi harus diimbangi juga dengan kemajuan moral dan spiritual. Tidak adanya kontrol terhadap kemajuan, hanya akan menambah sekian banyak kerumitan. Ketiga, ilmu agama bukan ilmu sampingan. Ia adalah kunci pemecah masalah yang berada diluar batas logika, di luar rasio akal kita. Sebagai orang yang berfilsafat, hendaknya kita mencintai semua ilmu pengetahuan, dan tidak mendiskriminasi suatu ilmu tertentu. 




Kamis, 20 Maret 2025

Philosophy Class - day 3

 - 19 Maret 2025

Sebelum memulai pada pembahasan materi, saya ingin terlebih dahulu mengutarakan sedikit isi hati saya. Pertemuan kemarin, kelas diadakan secara online via gmeet dikarenakan cuaca yang buruk (hujan). Ini bisa jadi menyenangkan bagi mahasiswa yang kos di dekat UIN, tapi tidak bagi mahasiswa PP alias pulang pergi๐Ÿ˜”. Bayangkan saja, saya rela jauh-jauh dari Kalidawir menerobos hujan dan sesampainya di kampus, ternyata dapat info kalau kelasnya diganti online. Bisa dibayangkan betapa kecewanya saya๐Ÿ˜ƒ...... But it's okay, hal itu juga dilakukan karena ada alasan tertentu. Mungkin ini pembelajaran bagi saya agar lain kali tidak usah terlalu effort (eman nen awakmu) ๐Ÿ˜ญ. Sekian, terima kasih sudah menyempatkan membaca ocehan yang tidak penting ini๐Ÿ˜Š๐Ÿ™. 

Berpikir Ilmiah Dalam Masyarakat Indonesia                                                                

Third class Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada pertemuan ke 3 ini, kita mempelajari tentang "Berpikir Ilmiah Dalam Masyarakat Indonesia". Dalam berpikir, terdapat 2 cara yang umum digunakan, yaitu: 

  1. Cara Induktif. Yaituberpikir secara khusus lalu diambil kesimpulan secara umum. Contohnya : ada seorang dosen di UIN Tulungagung yang setiap ketemu mahasiwa, mahasiwa tersebut selalu menunduk dan menyapa dosen tersebut, baik itu mahasiwa dari Fakultas FUAD, FEBI, FASIH, maupun FTIK. Dari fenomena tersebut, dosen itu akhirnya menarik kesimpulan bahwa "mahasiwa UIN Tulungagung itu sopan-sopan. "
  2. Cara Deduktif. Yaitu, berpikir secara umum lalu diambil kesimpulan secara khusus. Contohnya : saat kita berkenalan dengan orang yang dari Solo. Lalu orang Solo tersebut berbicara dengan nada yang  halus. Kemudian, dari fenomena tersebut kita menarik kesimpulan bahwa "orang Solo itu ramah, kalem dan lemah lembut. "
Tentang "Anomali"                                          Ada suatu istilah yang umum didengar dikalangan masyarakat yaitu "Anomali". Anomali, merupakan suatu hal yang keluar dari fenomena umum/kelaziman. Contohnya : ketika kita bertemu dengan orang Surabaya, yang cara ngomongnya menggunakan nada yang halus/lemah lembut. Ini merupakan suatu " Anomali", karena seperti yang diketahui banyak orang, bahwa Surabaya terkenal dengan logatnya yang kasar dan tegas. 

Jenis - jenis cara berpikir
Cara berpikir, merupakan penentu keberadaan/eksistensi suatu individu, sosial, maupun masyarakat. Ada beberapa jenis cara berpikir yang lazim dalam budaya masyarakat Homo Sapiens, yaitu: 
  1. Intuitif. Cara berpikir yang hanya berfokus pada solusi cepat, bukan pada analisis masalah, bahkan tidak tahu masalahnya apa. Contohnya : ketika HP kita hilang, kita cenderung langsung merasa panik (gupuh). Padahal, sebenarnya kita perlu untuk menganalisis permasalahan kita dulu tentang, bagaimana hp kita bisa hilang, di mana terakhir kali kita meletakkan HP kita, apa yang bisa kita lakukan untuk melacak keberadaan HP kita. 
  2. Empiris. Cara berpikir berdasarakan pengalaman dari individu/orang lain (menghasilkan pengetahuan berbasis kearifan lokal). Contohnya : ketika ada yang keracunan, maka orang-orang pasti akan menganjurkan meminum air kelapa untuk penawarnya. Memang, secara medis air kelapa bisa digunakan untuk mendetox racun, namun dalam budaya indonesia orang-orang lebih familiar dengan metode tersebut dikarenakan dari pengalaman orang-orang terdahulu (katanya-katanya). 
  3. Ilmiah. Cara berpikir dengan mengacu pada prosedur,  keilmuan secara sistematis, metodologis dan operasional. Contohnya : ketika kita sedang membuat makalah. Untuk cara yang ini, sepertinya agak kurang dipraktekkan dalam budaya masyarakat indonesia, mengingat masyarakat kita lebih suka berpikir pendek dan serba cepat.
Berpikir Ilmiah dan Masalah                      Berpikir ilmiah berangkat dari suatu masalah. Ketika kita mendapati suatu masalah, maka otak kita akan secara otomatis menganalisa dan mengidentifikasi permasalahan tersebut, mulai dari akar hingga ke bagaimana penyelesaian masalah tersebut. Dalam sudut pandang ilmiah, masalah bisa disebut dengan "GAP" (kesenjangan). Kesenjangan antara idealitas (seharusnya) dengan realitas (kenyataannya)

Jumat, 14 Maret 2025

Philosophy Class - day 2

Second class 12-5-2025, matkul Falsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Di pertemuan kedua ini kita belajar tentang "Ilmu Pengetahuan Sebagai Fenomena Kemanusiaan".

Ilmu pengetahuan menjadi pembeda antara manusia dengan mahkluk ciptaan lain. Karena sejatinya, manusia adalah mahkluk yang "pemikir"—setiap detik, tiap menit, dalam hidupnya pasti tak lekang dari perhitungan. Ini sejalan dengan manusia  yang memiliki keistimewaan dibanding mahkluk lainnya yaitu berupa "akal", untuk berpikir. Inilah yang juga membuat status ilmu menjadi keniscayaan, setiap pergerakan yang terjadi dalam hidup kita pasti melibatkan ilmu didalamnya. 

Setidaknya, ada 3 alasan mengapa manusia wajib untuk berilmu:

–Pertama, manusia tidak siap untuk hidup di "alam pertama", atau bermakna alam asli. Alam yang belum terjamah teknologi dan pengetahuan (alam liar). Berbeda dengan hewan yang tinggal makan apapun tanpa perlu diolah dan tinggal hidup dimanapun tanpa perlu membuat rumah, manusia tidak akan mampu untuk hidup seperti itu. Itulah mengapa kita wajib untuk berilmu agar mampu mampu mencapai alam kedua dimana kita sudah belajar dan berkembang lewat ilmu, dan bahkan sampai pada alam ketiga dimana di alam ini tidak hanya sebatas berilmu tapi juga mepertimbangkan tentang "nilai" (Estetika).

—Kedua, Manusia tidak pernah merasa puas dalam dirinya. Selain memiliki "akal", manusia juga memiliki sifat alamiah mahkluk hidup lain yaitu " Nafsu". Sifat ini yang membuat manusia tidak pernah merasa puas, hasrat ingin memiliki lebih dan lebih, menguar dalam diri mereka. Namun, rasa tidak puas ini tak selamanya buruk, karena dengan rasa "ingin punya lebih" Itulah yang akhirnya melahirkan "kreativitas", guna mencapai kepuasan nafsunya tersebut. Namun, dari rasa tidak puas itu juga, nantinya akan terlahir "Destruktivitas" Akibat hanya menuruti hawa nafsu Semata, tanpa memperhatikan hukum-hukum alam yang berlaku. 

Ketika akhirnya manusia tidak dapat memenuhi rasa ketidakpuasannya, maka lahirlah "Mekanisme Alamiah". Bisa dibilang, ini sama seperti konsep bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. 

Sebagai manusia yang berfilsafat, sudah semestinya untuk kita mengelola rasa ketidakpuasaan kita secara rohani. Karena kreativitas yang lahir dari rasa tidak puas, tidak selalu melahirkan hal-hal yang emas, tetapi malah dapat berujung pada kehancuran/destruktivitas. Namun, bagaimanapun juga tidak dapat dipungkiri bahwa, rasa tidak puas inilah yang menjadi landasan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan. 

Ketiga, Manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan akan jawaban tentang "makna" Melalui agama. Sebagai makhluk pemikir, sangat wajar jika manusia selalu punya pertanyaan dalam hidupnya, entah itu yang bersifat ilimiah maupun batiniah. Ilmu pengetahuan hadir untuk membantu manusia mencapai jawaban atas segala pertanyaan. Dengan berilmu, kita akan menemukan jawaban yang logis dan mengobati rasa penasaran dan kegelisahan kita, serta memenuhi kebutuhan spiritualitas kita dengan memahami agama lewat ilmu pengetahuan sebagai perantaranya. 


Ngomongin Komunikasi

 Cari Tahu Keterkaitan antara Teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri Sahabat komunikasi, pernah nggak sih ngerasain fase dimana lagi...