Mimpi: Bunga Tidur atau Bunga Kantil?
—7 Mei 2025
Eighth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada perjumpaan kali ini, kita diajak untuk mebahas tentang "Mimpi", dalam perspektif psikologi, dan hubungannya dengan salah satu cabang filsafat yaitu "Ontologi".
Mimpi, suatu hal alamiah yang pasti dialami seluruh makhluk hidup di dunia ini, ketika mereka sedang tidur. Kaitan antara mimpi dan filsafat, dapat kita hubungkan dengan salah satu cabang filsafat yaitu "Ontologi". Keterkaitan itu terletak pada fungsi Ontologi itu sendiri yang membahas tentang hakikat dan kenyataan. Ontologi berusaha menjawab tentang hakikat dan realitas dari sebuah mimpi, yang mana dalam kondisi bermimpi, kita seolah-olah mengalami fenomena yang nyata bahkan mirip dengan dunia asli. Namun kenyataannya, itu semua hanyalah sekedar ilusi yang akan sirna seketika setelah kita terjaga.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita mulai membangun kebiasaan mencatat mimpi setelah bangun tidur. Alasannya adalah, dengan mencatat setiap mimpi yang kita alami, kita akan mengenali sejauh mana batas-batas antara realitas dan ilusi.
Mengupas Gagasan Utama di Tiap Paragraf dalam Jurnal yang Berjudul: KONSEP MIMPI DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM:Studi Komparasi Psikologi Islam dan Psikologi Barat
Pada kelas kali ini, Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, membagikan sebuah jurnal sebagai penunjang pembelajaran. Kita diajak untuk mengupas gagasan utama di tiap-tiap paragraf, pada beberapa paragraf di awal-awal. Poin-pon penting yang saya dapat diantaranya adalah:
~Poin Pertama: "Mimpi bagian dari kehidupan."
Bagi sebagian orang, mungkin menganggap mimpi hanyalah sekedar bunga tidur. Namun realitanya, mimpi erat kaitannya dengan kehidupan dan pembentukan kebudayaan manusia.
~Poin Kedua: "Perhatian terhadap mimpi sudah sejak ribuan tahun lalu."
Manusia sudah sejak zaman dahulu telah menaruh perhatian yang mendalam pada fenomena mimpi. Bahkan dalam beberapa peradaban, mimpi berperan penting dalam pembentukan produk kebudayaan seperti "Ritual" tertentu.
~Poin Ketiga: pendapat Sigmund Freud tentang "Mimpi sebagai ekspresi pemenuhan keinginan yang tidak bisa tercapai di alam nyata."
Dalam psikologi ada 2 hal yang hampir sama namun berbeda:
1) want = keinginan
2) need = kebutuhan
Jika dominan want nya maka kemungkinan stres tinggi. Stress = gap antara ideal dan realita. Jika ideal dan realita dapat diraih maka stress dapat dihilangkan.
Oleh sebab itu, bisa dibilang mimpi bukan hanya sekedar bunga tidur biasa, namun juga ibarat "Bunga Kantil", yang menggambarkan suasana harmonis dan membawa kebahagiaan.
Setiap orang mempunyai perbedaan sudut pandang/perspektif. Ada yang membesarkan persoalan yang kecil dan sebaliknya. Orang yang selalu mebesarkan persoalan kecil berarti tidak pernah bersyukur dan cenderung tidak pernah bahagia.
Sehingga, bagaimana muatan isi mimpi seseorang, akan berkorelasi dengan kehidupan, tingkah laku, dan suasana emosionalnya. Mereka akan cenderung menggunakan mimpi untuk mengurangi beban fikiran dan tekanan yang selama ini dijalani dalam kehidupan nyata.
~Poin Kelima: "Mimpi mejadi bagian dari kajian islam."
Menurut Al-Quran, kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Mimpi itu ibarat kanvas yang kosong, bagaimana kualitas dan terbentuknya mimpi kita, erat kaitannya dengan apa yang biasa kita lakukan sehari-hari.
Pakar psikologi Islam Muhammad ‘Utsmān Najati, dalam jurnal tersebut mengemukakan, bahwa keadaan tidur sama dengan keadaan ketika mati. Ketika kita tidur, ruh dalam diri kita ibarat terlepas dan melancong ke berbagai tempat. Inilah yang membedakan antara tidur dan mati, ketika kita tidur maka ruh akan kembali lagi ke jasad (tubuh), sedangkan ketika kita mati, ruh yang telah melancong tersebut ditahan dan tidak kembali lagi ke jasad.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar