Kamis, 20 Maret 2025

Philosophy Class - day 3

 - 19 Maret 2025

Sebelum memulai pada pembahasan materi, saya ingin terlebih dahulu mengutarakan sedikit isi hati saya. Pertemuan kemarin, kelas diadakan secara online via gmeet dikarenakan cuaca yang buruk (hujan). Ini bisa jadi menyenangkan bagi mahasiswa yang kos di dekat UIN, tapi tidak bagi mahasiswa PP alias pulang pergi😔. Bayangkan saja, saya rela jauh-jauh dari Kalidawir menerobos hujan dan sesampainya di kampus, ternyata dapat info kalau kelasnya diganti online. Bisa dibayangkan betapa kecewanya saya😃...... But it's okay, hal itu juga dilakukan karena ada alasan tertentu. Mungkin ini pembelajaran bagi saya agar lain kali tidak usah terlalu effort (eman nen awakmu) 😭. Sekian, terima kasih sudah menyempatkan membaca ocehan yang tidak penting ini😊🙏. 

Berpikir Ilmiah Dalam Masyarakat Indonesia                                                                

Third class Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada pertemuan ke 3 ini, kita mempelajari tentang "Berpikir Ilmiah Dalam Masyarakat Indonesia". Dalam berpikir, terdapat 2 cara yang umum digunakan, yaitu: 

  1. Cara Induktif. Yaituberpikir secara khusus lalu diambil kesimpulan secara umum. Contohnya : ada seorang dosen di UIN Tulungagung yang setiap ketemu mahasiwa, mahasiwa tersebut selalu menunduk dan menyapa dosen tersebut, baik itu mahasiwa dari Fakultas FUAD, FEBI, FASIH, maupun FTIK. Dari fenomena tersebut, dosen itu akhirnya menarik kesimpulan bahwa "mahasiwa UIN Tulungagung itu sopan-sopan. "
  2. Cara Deduktif. Yaitu, berpikir secara umum lalu diambil kesimpulan secara khusus. Contohnya : saat kita berkenalan dengan orang yang dari Solo. Lalu orang Solo tersebut berbicara dengan nada yang  halus. Kemudian, dari fenomena tersebut kita menarik kesimpulan bahwa "orang Solo itu ramah, kalem dan lemah lembut. "
Tentang "Anomali"                                          Ada suatu istilah yang umum didengar dikalangan masyarakat yaitu "Anomali". Anomali, merupakan suatu hal yang keluar dari fenomena umum/kelaziman. Contohnya : ketika kita bertemu dengan orang Surabaya, yang cara ngomongnya menggunakan nada yang halus/lemah lembut. Ini merupakan suatu " Anomali", karena seperti yang diketahui banyak orang, bahwa Surabaya terkenal dengan logatnya yang kasar dan tegas. 

Jenis - jenis cara berpikir
Cara berpikir, merupakan penentu keberadaan/eksistensi suatu individu, sosial, maupun masyarakat. Ada beberapa jenis cara berpikir yang lazim dalam budaya masyarakat Homo Sapiens, yaitu: 
  1. Intuitif. Cara berpikir yang hanya berfokus pada solusi cepat, bukan pada analisis masalah, bahkan tidak tahu masalahnya apa. Contohnya : ketika HP kita hilang, kita cenderung langsung merasa panik (gupuh). Padahal, sebenarnya kita perlu untuk menganalisis permasalahan kita dulu tentang, bagaimana hp kita bisa hilang, di mana terakhir kali kita meletakkan HP kita, apa yang bisa kita lakukan untuk melacak keberadaan HP kita. 
  2. Empiris. Cara berpikir berdasarakan pengalaman dari individu/orang lain (menghasilkan pengetahuan berbasis kearifan lokal). Contohnya : ketika ada yang keracunan, maka orang-orang pasti akan menganjurkan meminum air kelapa untuk penawarnya. Memang, secara medis air kelapa bisa digunakan untuk mendetox racun, namun dalam budaya indonesia orang-orang lebih familiar dengan metode tersebut dikarenakan dari pengalaman orang-orang terdahulu (katanya-katanya). 
  3. Ilmiah. Cara berpikir dengan mengacu pada prosedur,  keilmuan secara sistematis, metodologis dan operasional. Contohnya : ketika kita sedang membuat makalah. Untuk cara yang ini, sepertinya agak kurang dipraktekkan dalam budaya masyarakat indonesia, mengingat masyarakat kita lebih suka berpikir pendek dan serba cepat.
Berpikir Ilmiah dan Masalah                      Berpikir ilmiah berangkat dari suatu masalah. Ketika kita mendapati suatu masalah, maka otak kita akan secara otomatis menganalisa dan mengidentifikasi permasalahan tersebut, mulai dari akar hingga ke bagaimana penyelesaian masalah tersebut. Dalam sudut pandang ilmiah, masalah bisa disebut dengan "GAP" (kesenjangan). Kesenjangan antara idealitas (seharusnya) dengan realitas (kenyataannya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngomongin Komunikasi

 Cari Tahu Keterkaitan antara Teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri Sahabat komunikasi, pernah nggak sih ngerasain fase dimana lagi...