Sabtu, 17 Mei 2025

Philosopy Class - day 9

Meneropong Mimpi Lewat Lensa Psikologi Islami

—14 Mei 2025


Ninth class of Filsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Pada pertemuan ke sembilan ini, tidak ada kelas offline, dan kita diinstruksikan untuk melanjutkan membaca jurnal sebelumnya yang terkait dengan mimpi. Kali ini kita akan membahas lebih mendalam lagi tentang mimpi berdasarkan pandangan psikologi islam.

Pengertian Mimpi
Mimpi bisa diartikan sebagai pengalaman psikologis yang dialami seseorang dalam keadaan tidurnya. Dari mimpi bisa kita cermati bahwa, otak manusia yang tidak berkaitan dengan lingkungan sekitarnya ketika kita tidur, dapat mengalami kondisi dunia sadar diluar kendali kita. Mimpi dapat terjadi karena adanya gambaran, ide, emosi, dan sensasi yang berlangsung dengan tanpa kontrol dari subjek yang tengah tertidur. 

Macam-Macam Mimpi

  1. Mimpi yang benar dan menjadi kenyataan. Mimpi ini mewartakan kebenaran dan merupakan bagian dari kenabian. Mimpi jenis ini juga dipecah lagi menjadi tiga: 1) mimpi yang transparan dan jelas, 2) mimpi samar dan membutuhkan penafsiran, 3) Mimpi Baik, menyampaikan kabar gembira dari Allah, contohnya: mimpi bertemu nabi, orang-orang sholeh. 
  2. Mimpi simbolis atau bisikan. Mimpi yang ini memerlukan penafsiran seperti memahami peribahasa, dianggap sebagai jawaban atau petunjuk dari sebuah masalah yang dihadapi. Petunjuk dapat berupa gambaran/simbol yang logis. 
  3. Mimpi yang menakutkan. Mimpi jenis ini adalah yang memperingatkan akan ancaman bahaya atau sesuatu yang menganggu pikiran.
Mimpi Dalam Hadis
Berdasarkan hadis dari Abu  Hurairah, mimpi diuraikan menjadi 3 macam, yaitu: 
  1. Mimpi Baik, yang berisikan kabar-kabar gembira dari Allah
  2. Mimpi yang bersifat/menggambarkan kesusahan, mimpi ini berasal dari syaitan
  3. Mimpi yang disebabkan oleh fokus manusia terhadap suatu hal, hingga terbawa ke dunia mimpi
Mimpi Dalam Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an, pembahasan mimpi dikaitkan dengan 2 peristiwa penting dalam dunia islam, yaitu: 
  1. Kisah Nabi Ibrahim as. Yang ingin menyembelih putranya berdasarkan mimpi yang didapatnya, dan sang putra Ismail as. Tetap mematuhinya, sebagaimana dijelaskan dalam (QS. Ash-Shaffat:102-10).
  2.  Kisah mimpi Nabi Muhammad saw. tentang masuknya beliau bersama para sahabatnya ke Makkah dengan aman, dan akhirnya mimpi tersebut menjadi kenyataan saat pembebasan Makkah, sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Al-Fath ayat 27.
Hubungan Mimpi Dengan Gangguan Mental
Sigmund Freud membaginya kedalam 3 macam, yaitu:
  1. Penyebab abnormalitas dan hubungan klinis dari mimpi sebagai gambaran, petunjuk, atau sisa kondisi kegilaan. 
  2. Modifikasi kondisi mimpi menjadi bahasan utama dalam penyakit mental. 
  3. Hubungan intrinsik antara mimpi dan kegilaan dalam bentuk analogi
Kedudukan Mimpi Dalam Psikologi Islam
Dalam perpektif Islam,  mimpi dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dimulainya fase baligh seorang muslim, selain itu mimpi juga dianggap sebagai petunjuk atas sebuah kisah yang penuh hikmah atau nasihat. Dalam psikologi Islam, mimpi merupakan hal yang diakui eksistensinya karena terdapat dalam kedua sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an dan Hadist.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngomongin Komunikasi

 Cari Tahu Keterkaitan antara Teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri Sahabat komunikasi, pernah nggak sih ngerasain fase dimana lagi...