1) Teori Regulasi Diri (Self Regulation)
Teori Regulasi Diri yaitu, kemampuan untuk mengontrol diri dan menetapkan reaksi terhadap keberhasilan dan kegagalan yang dicapai.
Jadi, teori regulasi diri ini tuh kayak bagaimana kita berkomunikasi dengan diri kita, mengontrol setiap tingkah laku, tindakan, emosi, dan reaksi kita, untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Proses Regulasi Diri
Prosesnya sendiri terdiri atas 6 tahapan:
- Receiving (penerimaan)
- Evaluating (pengolahan informasi)
- Searching (pencarian solusi)
- Formulating (tujuan)
- Implementing (pelaksanaan)
- Assesing (pengukuran)
Studi Kasus
Misal kita punya keinginan buat dapat ipk yang tinggi di semester 2, maka kita bisa terapin teori ini mulai dari tahap awal sampai akhir:
- Receiving, menerima dan membangun kesadaran kalau kita harus melakukan perubahan.
- Evaluating, kita perlu mencari informasi nih tentang apa aja sih cara² buat dapetin ipk yang tinggi, macam² strategi belajar, cara agar fokus, tidak terdistraksi saat belajar, dll.
- Searching, mulai mencari solusi dengan merancang strategi, misal tetapkan strategi belajar yang dirasa cocok dengan diri kita, atur jadwal dan periode waktu belajar, list skala kepentingan tugas, biasakan mencatat ketika kelas, aktif saat pembelajaran, dan list lagi apa saja yang kiranya bisa mengganggu belajar supaya kita bisa menghindari hal tersebut.
- Formulating, tentukan tujuan yang jelas dari langkah-langkah yang sudah kita buat, misal di semester 2 kita ingin dapat ipk 4.00 dan menjadi mahasiswa aktif.
- Implementing, mulai implementasikan apa yang sudah dirancang, pantau perkembangan, dan jangan lupa hindari yang memicu distraksi.
- Assesing, lakukan pengukuran tentang seberapa berhasilkah strategi yang sudah dilakukan, apakah sudah mencapai target yang ditetapkan.
2) Teori Penetrasi Sosial (Sosial Penetration)
Teori Penetrasi Sosial, merupakan teori yang menjelaskan tentang perkembangan hubungan interpersonal yang berjalan secara bertahap, mulai dari lapisan terluar hingga lapisan terdalam selayaknya kita mengupas bawang.
Proses Penetrasi Sosial
Prosesnya sendiri terdiri atas 5 tahapan:
- Orientasi (interaksi awal, biasanya masih canggung, sopan, dan membahas hal² ringan)
- Eksplorasi Afektif (mulai membahas tentang perspektif pribadi, nilai² umum, dll)
- Afektif (mulai timbul kedekatan secara emosional, mulai membahas hal² pribadi)
- Pertukaran Stabil (mulai saling mengungkapkan diri lebih dalam)
- Depenetrasi/opsional (fase dimana terjafi kerenggangan hubungan dan penarikan kembali informasi yang telah dibagikan
Studi Kasus
Misal ketika kita pertama kali masuk dunia perkuliahan dan mendapatkan teman baru, maka kita akan melalui beberapa tahapan pengenalan:
- Orientasi, di tahap ini kita masih membicarakan hal² yang umum seperti nama, alamat, kesukaan, hoby, dll, (cenderung masih canggung dan jaga sikap)
- Eksplorasi Afektif, mulai membahas topik yang agak berat tentang pendapat / pandangan pribadi terhadap suatu fenomena, politik, ekonomi, sejarah, dll.
- Akfektif, mulai timbul kedekatan emosional, saling bertukar informasi pribadi
- Pertukaran Stabil, terjadi pertukaran informasi yang lebih dalam. Biasanya ditandai dengan saling curhat.
- Depenetrasi, ketika terjadi kerenggangan hubungan antara kedua belah pihak, dan saling memutus informasi satu sama lain.
3) Teori Lingkaran Keheningan (Spiral of Silence)
Teori Spiral of Silence merupakan teori yang membahas tentang suatu fenomena dimana individu merasa takut dan tidak percaya diri, untuk mengungkapkan pendapatnya karena dirinya merasa berada di pihak minoritas. Dalam konteks yang lebih luas lagi, terkadang media juga turut berpengaruh dalam menyuburkan fenomena ini.
Studi kasus
Misal dalam sebuah diskusi kelompok yang mana mayoritas anggotanya berasal dari suku Jawa. Ada dua pihak yang berasal dari dua suku yang berbeda yaitu Jawa dan Aceh, yang mana masing-masing dari mereka mempunyai gagasan dan ingin menyampaikan pendapatnya. Ketika pihak Jawa menyampaikan pendapatnya, sontak mayoritas anggota langsung setuju dengannnya. Melihat hal itu, pihak Aceh yang merasa minoritas dalam kelompok, menjadi minder dan tidak prcaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya, karena merasa takut ditolak atau dikucilkan oleh rekan-rekannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar