Jumat, 14 Maret 2025

Philosophy Class - day 2

Second class 12-5-2025, matkul Falsafat Ilmu yang diampu oleh Bapak Prof.Dr.Ngainun Na'im, S.Ag,M.HI. Di pertemuan kedua ini kita belajar tentang "Ilmu Pengetahuan Sebagai Fenomena Kemanusiaan".

Ilmu pengetahuan menjadi pembeda antara manusia dengan mahkluk ciptaan lain. Karena sejatinya, manusia adalah mahkluk yang "pemikir"—setiap detik, tiap menit, dalam hidupnya pasti tak lekang dari perhitungan. Ini sejalan dengan manusia  yang memiliki keistimewaan dibanding mahkluk lainnya yaitu berupa "akal", untuk berpikir. Inilah yang juga membuat status ilmu menjadi keniscayaan, setiap pergerakan yang terjadi dalam hidup kita pasti melibatkan ilmu didalamnya. 

Setidaknya, ada 3 alasan mengapa manusia wajib untuk berilmu:

–Pertama, manusia tidak siap untuk hidup di "alam pertama", atau bermakna alam asli. Alam yang belum terjamah teknologi dan pengetahuan (alam liar). Berbeda dengan hewan yang tinggal makan apapun tanpa perlu diolah dan tinggal hidup dimanapun tanpa perlu membuat rumah, manusia tidak akan mampu untuk hidup seperti itu. Itulah mengapa kita wajib untuk berilmu agar mampu mampu mencapai alam kedua dimana kita sudah belajar dan berkembang lewat ilmu, dan bahkan sampai pada alam ketiga dimana di alam ini tidak hanya sebatas berilmu tapi juga mepertimbangkan tentang "nilai" (Estetika).

—Kedua, Manusia tidak pernah merasa puas dalam dirinya. Selain memiliki "akal", manusia juga memiliki sifat alamiah mahkluk hidup lain yaitu " Nafsu". Sifat ini yang membuat manusia tidak pernah merasa puas, hasrat ingin memiliki lebih dan lebih, menguar dalam diri mereka. Namun, rasa tidak puas ini tak selamanya buruk, karena dengan rasa "ingin punya lebih" Itulah yang akhirnya melahirkan "kreativitas", guna mencapai kepuasan nafsunya tersebut. Namun, dari rasa tidak puas itu juga, nantinya akan terlahir "Destruktivitas" Akibat hanya menuruti hawa nafsu Semata, tanpa memperhatikan hukum-hukum alam yang berlaku. 

Ketika akhirnya manusia tidak dapat memenuhi rasa ketidakpuasannya, maka lahirlah "Mekanisme Alamiah". Bisa dibilang, ini sama seperti konsep bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. 

Sebagai manusia yang berfilsafat, sudah semestinya untuk kita mengelola rasa ketidakpuasaan kita secara rohani. Karena kreativitas yang lahir dari rasa tidak puas, tidak selalu melahirkan hal-hal yang emas, tetapi malah dapat berujung pada kehancuran/destruktivitas. Namun, bagaimanapun juga tidak dapat dipungkiri bahwa, rasa tidak puas inilah yang menjadi landasan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan. 

Ketiga, Manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan akan jawaban tentang "makna" Melalui agama. Sebagai makhluk pemikir, sangat wajar jika manusia selalu punya pertanyaan dalam hidupnya, entah itu yang bersifat ilimiah maupun batiniah. Ilmu pengetahuan hadir untuk membantu manusia mencapai jawaban atas segala pertanyaan. Dengan berilmu, kita akan menemukan jawaban yang logis dan mengobati rasa penasaran dan kegelisahan kita, serta memenuhi kebutuhan spiritualitas kita dengan memahami agama lewat ilmu pengetahuan sebagai perantaranya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngomongin Komunikasi

 Cari Tahu Keterkaitan antara Teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri Sahabat komunikasi, pernah nggak sih ngerasain fase dimana lagi...