Menggali Epistemologi Dalam Filsafat Ilmu
—23 April 2025
Menggali Epistemologi Dalam Filsafat Ilmu
—23 April 2025
Mengulik Aksiologi Dalam Filsafat Ilmu
—16 April 2025
Mengupas Ontologi Dalam Filsafat Ilmu
—9 April 2025
Agama dan Sains: Dua Sisi Mata Uang Peradaban
Nama: Ahmad Wisnu Febriansyah Kelas : KPI-2E Nim : 1860304241013
—26 Maret 2025
Sebenarnya definisi orang berilmu itu seperti apa sih? Apakah mereka yang jago berhitung? Serba tahu? Jenius? Atau menguasai segala hal? Sejatinya, ilmu merupakan ciri manusia itu sendiri. Bahkan penilaian paling adil terhadap manusia, dapat dilihat berdasarkan ilmu yang mereka miliki. Namun dimasa sekarang ini nampaknya, ilmu-ilmu yang didasarkan pada data dan fakta, dapat diamati, diukur serta dibuktikan, dianggap memiliki derajat yang paling unggul diantara cabang-cabang ilmu lain. Lebih parahnya lagi, kebenaran ilmu agama mereka anggap absurd belaka. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, ilmuan-ilmuan modern seakan-akan meremehkan peranan Tuhan.
Fenomena ini tak lepas dari pengaruh perkembangan pemikiran positivisme Auguste Comte, yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan memiliki tiga tahap pembebasan. Terbebas dari hal-hal teologik yang bersifat mistis, terlepas dari wilayah metafisik yang bersifat abstrak, dan hak otonomi ilmu pengetahuan dalam lingkungan positivistik. Apa yang dianggap benar adalah apa yang terukur dan tampak pada indra manusia, sehingga tak ada ruang bagi kebenaran spekulatif abstraktif. Secara tak sadar, dari mindset ini timbullah suatu hierarki atau pengkastaan dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pasti menduduki posisi tertinggi, disusul ilmu-ilmu kealaman, kemudian ilmu sosial (itupun yang bersifat positivistik dan materialistik). Selanjutnya adalah ilmu humaniora, dan ilmu agama menempati urutan terbawah. Akibatnya, pintar atau tidaknya manusia sering dinilai berdasarkan penguasaan mereka atas hierarki tersebut. Hal ini sangat tidak manusiawi, karena sejatinya pintar ataupun bodoh tidak dapat diukur dengan standar yang sama, setiap manusia punya kelebihan dan potensi yang berbeda-beda.
Di zaman ini, manusia sudah tidak bergantung lagi pada siklus alamiah yang diatur oleh irama alam. Manusia cenderung diatur oleh "alam kedua", yang bersifat buatan sebagai hasil dari perkembangan teknologi. Teknologi sudah bukan lagi sekedar tiruan " Alam pertama", namun sudah sampai pada tahap menggantikan fungsi dan peran manusia itu sendiri. Ketidakberhasilan ilmu humanistik dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan seperti kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan, semakin mengglorifikasi hierarki ilmu pengetahuan.
Harus diakui bahwa dewasa ini ini, manusia tak bisa melepaskan diri dari teknologi. Bahkan dalam beberapa kasus, teknologi seolah-olah sudah mengganti/meniru peranan yang dimasa lalu dianggap kehendak Tuhan dalam hal penciptaan. Ilmu pengetahuan (eksakta) dan teknologi, seakan-akan berlakon sebagai "sang penebus dan sang pembebas". Ia menebus dan membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan dan kelatarbelakangan. Namun, persoalan penting yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa dewasa ini perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tampaknya tidak diimbangi dengan moral kemanusiaan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi, awalnya memang dikembangkan untuk membebaskan manusia, dan mempermudah mereka dalam menghadapi dan menyelasaikan berbagai persoalan dalam kehidupan. Namun fakta dilapangan mengatakan, kemajuan teknologi ibarat pisau bermata dua. Ia bisa memberikan dampak yang positif bagi manusia, tetapi juga dapat menghadirkan malapetaka apabila tidak ada kontrol atas penggunaannya. Manusia seakan kehilangan interaksi batinnya dengan manusia lain, dengan alam lingkungan, maupun dengan entitas yang transenden.
Melihat fenomena ini, maka diperlukan suatu usaha besar dalam rangka menyejajarkan kedudukan antara ilmu pengetahuan (eksakta-empirik) dan teknologi, dengan filsafat ilmu pengetahuan. Penegasan kedudukan ini, bukan semata-mata untuk formalitas saja. Filsafat ilmu pengetahuan di sini, bertugas membimbing manusia untuk meraih kebenaran yang sejati. Agar manusia menyadari bahwa selama ini, mereka telah terbutakan oleh yang selama ini mereka anggap sebagai kenikmatan duniawi buah hasil dari kemajuan pengetahuan dan teknologi.
Kiranya, dialog lintas cabang ilmu pengetahuan amatlah penting di masa sekarang ini. Agar masing-masing ilmu pengetahuan tidak saling menutup diri, dan menyadari bahwa semua ilmu pengetahuan adalah sejajar kedudukannya. Tidak ada lagi diskriminasi terhadap ilmu agama, agama merupakan alternatif untuk menjawab persoalan-persoalan yang berada diluar batas rasio akal. Karena sejatinya, kehidupan manusia tak bisa luput dari teka-teki transedental. Manusia yang berilmu seharusnya tidak hanya dinilai dari seberapa pandai dia dalam mengendalikan alam, tetapi juga bagaimana dia mengendalikan insannya.
Kesimpulan— Kemajuan suatu teknologi tidak hanya dilihat dari sampai mana itu berkembang, tetapi juga bagaimana manusia punya kendali atas hal tersebut. Sebagai orang yang berilmu, sepatutnya harus bersikap rendah hati dan tidak besar diri. Karena sejatinya, seberapa tinggi derajat manusia tidak hanya diukur dari seberapa hebat penguasaan ilmunya, tetapi juga pada seberapa lihai dia dalam mengontrol atas dirinya. Ilmu agama adalah kunci untuk menjawab pernak-pernik kehidupan yang bersifat transedental, yang berada di luar rasio akal. Hierarki dalam ilmu pengetahuan, hanya akan menunjukkan seberapa tidak berilmunya manusia.
Hikmah— Hikmah yang dapat kita peroleh dari pembahasan diatas adalah: pertama, hindarilah sifat sombong dan besar diri. Tidak ada ilmu pengetahuan yang paling unggul, semua manusia punya keunikan dan potensi yang berbeda-beda. Kedua, kemajuan suatu teknologi harus diimbangi juga dengan kemajuan moral dan spiritual. Tidak adanya kontrol terhadap kemajuan, hanya akan menambah sekian banyak kerumitan. Ketiga, ilmu agama bukan ilmu sampingan. Ia adalah kunci pemecah masalah yang berada diluar batas logika, di luar rasio akal kita. Sebagai orang yang berfilsafat, hendaknya kita mencintai semua ilmu pengetahuan, dan tidak mendiskriminasi suatu ilmu tertentu.
Cari Tahu Keterkaitan antara Teori Penetrasi Sosial dan Teori Regulasi Diri Sahabat komunikasi, pernah nggak sih ngerasain fase dimana lagi...